Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Asal mula Adat , cerita dari Hulu Aik - Kalimantan Barat

Jaman dahulu kala , hiduplah dua saudara kandung yang berlainan jenis bernama Kranamuna ( Versi Lain : Bintan Putin) dan Kranamuning ((Bintan Cuka). Berasal dari melihat dua ekor kutu yang berdekapan di atas kepala Kranamuna , lalu Kranamuning mengajak Kranamuna untuk mengikuti perbuatan kutu tersebut. Hingga akhirnya menyebabkan Kranamuning hamil . (Pada saat itu belum ada hukum adat yang mengatur baik buruknya perilaku seseorang)
Meskipun Kranamuning mengandung selama tujuh tahun,tujuh bulan dan tujuh hari, namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan melahirkan, yang ia rasakan adalah keinginan (mengidam) memakan Hati Kera Putih. Untuk memenuhi keinginan Kranamuning , maka berangkatlah Kranamuna pergi berburu untuk mencari Kera Putih, dengan membawa sebilah mandau dan Sumpit. Ketika sampai di hutan , Kranamuna melihat seekor Kera Putih, dan iapun segera mengarahkan sumpitnya.  Namun tiba-tiba Kera Putih itu berkata "Dengan ini saya umumkan kepada seluruh binatang untuk berkumpul di tempat ini dua hari lagi. Pada hari itu akan ada wejangan penting yang akan saya berikan, dan pada hari itu pula saya akan mati". Seusai berkata demikian tiba-tiba sang Kera Putih itu menghilang.

Jumat, 28 Februari 2014

Dayak JANGAN Golput pada PEMILU 2014 !!! (Juga Banjar dan suku asal Kalimantan Lainnya)

Dalam literatur yang terakses, kata ”Dayak” pertama kali muncul pada tahun 1757 dalam tulisan J. A. van Hohendorff yang berjudul “Radicale Beschrijving van Banjermassing” yang dipakai untuk menyebut “orang-orang liar di pegunungan” (1862: 188). Tampaknya, kata ini dipungutnya begitu saja dari cara orang-orang Melayu pantai menyebut orang pedalaman. J. A. Crawfurd dalam bukunya yang berjudul “A Decriptive Dictionary of The Iemndian Islands and Adjacent Cauntries”(1856: 127) menyatakan bahwa istilah “Dyak” digunakan oleh orang-orang Melayu untuk menunjukan “ras liar” yang tinggal di Sumatra, Sulawesi dan terutama di Kalimantan. (Marko Mahin , 2014).

Kemudian kata "Dayak" mulai dipakai sebagai identitas diri gabungan suku-suku Bangsa asli Kalimantan yang serumpun.

Menurut survei penduduk 2010 , warga negara Indonesia yang mengaku dirinya Dayak sebanyak 3.009.494 jiwa (1,27% peringkat 17 dari 30 Suku). Sedangkan suku Banjar 4.127.124 (1,74% - 13 dari 30) dan suku asal Kalimantan lainnya 1.968.620 (0,83% - 22 dari 30).
Sumber : BPS
Bandingkan dengan suku Jawa 94,2 juta atau 40,2 % dari penduduk Indonesia yang berjumlah 236.728.379 Jiwa.

Ritual "Babuar Ka Padapuratn" Dayak Kanayatn Kalimantan Barat



Upacara adat "Babuar Ka' Padapuratn" diikuti oleh Kampung-kampung di wilayah empat Binua ,yaitu Binua Lumut Ulu, Binua Sallo Batangan, Binua Sailo Salaass dan Binua Karangan di Kalimantan Barat.Kegiatan ini bertujuan untuk mengusir penyakit Padi , agar dalam kegiatan perladangan mendapat hasil panen yang berlimpah.
Kegiatan "Babuar Ka' Padapuratn" biasa diawali dengan mengarak sekapur sirih di sekitar kampung-kampung. Beberapa perahu kecil dan besar disiapkan untuk membawa pesembahan berupa buah-buahan hasil kebun, hasil pertanian ladang dan sawah.

Cerita Sejarah Adat "Babuar Ka' Padapuratn"
Pada jaman dahulu Kala Ne' Ramaga , seorang pemimpin yang hidup di daerah Bangkule Rajakng (Kampung Pakana sekarang) di tepi sungai Kariwatn (sungai Mempawah) , menerima wahyu dari Nek Panitah untuk mererima aturan hidup yang dinamakan "Adat Lima". Dalam mimpinya Ne' Ramaga diperintahkan untuk mengundang tiga saudaranya yang memimpin wilayahnya, yaitu Nek Matas (pemimpin wilayah di sepanjang sungai Kariwatn) , Nek Teguh atau Pak Usutn (pemimpin wilayah sungai Sambas) dan Nek Ria Sinir (pemimpin wilayah sungai Banyuke atau Landak).