Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2014

Partai Persatuan Daya[k] (PD). Partai Politik Pertama Suku Bangsa Dayak di Kalimantan

Kongres Sintang Mei 1958
I. Dayak In Action (DIA)
Semangat untuk bersatu masyarakat Suku Bangsa Dayak dalam sebuah organisasi selain di Kalimantan Selatan ( Kalimantan Tengah dan Selatan sekarang - Baca Pakat Dayak) , mulai nampak di Kalimantan Barat. Cikal Bakal Pendirian Partai Persatuan Daya[k] adalah dari satu sekolah seminari di Kelurahan Nyarumkop, Singkawang Kalimantan Barat. Sekolah Seminari itu bernama Seminari Santo Petrus. Tokoh-tokoh Pendiri Partai Persatuan Daya[k]  banyak yang berasal dari sekolah Seminari Santo Petrus [*1].
Pendidikan yang diberikan kepada suku Dayak menghasilkan kesadaran bahwa harkat dan martabat Suku Bangsa Dayak dapat terangkat jika kesatuan dari Sub-sub suku Dayak Dapat terwujud. Pada tahun 1942 [*2], diadakan retreat guru-guru dayak di Sanggau. Dalam pertemuan ini muncul pemikiran untuk memajukan orang Dayak supaya tidak selalu terbelakang. Beberapa literatur menyebutkan kesadaran ini timbul setelah surat yang di kirim oleh Oevaang Oeray kepada seluruh guru sekolah Katholik yang ada di Kalimantan Barat, untuk perduli kepada keadaan sosial masyarakat Dayak.

Jumat, 14 Maret 2014

GRRI (Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia) dan Perang Danau Mare di Katingan , Kalimantan Tengah

Danau Mare
Masa revolusi fisik mempertahankan Kemerdekaan, banyak terjadi pertempuran yang dilakukan oleh pejuang-pejuang dari Kalimantan, salah satunya Perang Danau Mare (Tumbang Samba, Katingan - Kalimantan Tengah ). Dalam pertempuran Danau Mare ini banyak pejuang yang ikut bertempur, berhasil mengusir dan menewaskan Prajurit Belanda. Tetapi ironisnya, masyarakat banyak yang tidak tahu peristiwa bersejarah ini. Dengan tulisan ini diharapkan agar peristiwa heroik yang terjadi di Danau Mare -Katingan, Kalimantan Tengah dapat diketahui secara luas.
Perjuangan GRRI dalam Perang Danau Mare dapat dibagi dalam beberapa tahap peristiwa.

I. Laskar pejuang Dayak Besar
Pada masa penjajahan Belanda ditengah penderitaan Rakyat , muncul pemuda Pelapor dari FUSU TJO GAKKO yang bernama Pieter K. Sawong bersama Ibong Bangas dari Taman Siswa. yang mendapat mandat untuk mendirikan GP3 (Gerakan Pelopor Penegak Proklamasi). Untuk menindak lanjuti mandat itu pada tanggal 12 Desember 1945 diadakan pertemuan yang bertempat di rumah J.M. Nahan. Pertemuan ini dihadiri oleh Pieter K. Sawong, Sikur Patus, Timmerman Brahim dan J.M. Nahan. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan membentuk GP3 di daerah Dayak Besar dan segera melakukan perekrutan para pemuda. Tindakan ini direspon positif oleh para pemuda : M. Yunus, Atak Dillah, Amat Benyamin Amei, Batara Linggar, Ady Suryadi, Christoffel Binti dan JP. Ngampun.

Kamis, 13 Maret 2014

Pakat Dayak (Sarikat Dayak). Organisasi pertama Suku Bangsa Dayak di Kalimantan

Gereja Hampatong , Kuala Kapuas, Kalteng
I. Sarikat Dayak [*1]

Selama masa penjajahan Belanda, aktifitas masyarakat suku Bangsa Dayak sangat tertindas. Pemerintah Belanda cenderung membatasi dan menekan semua aktifitas Suku Dayak dalam segala hal termasuk ide dan pemikiran. Upaya pemerintah Belanda dilakukan dengan mempertahankan peraturan Kolonial yang melarang semua kegiatan yang berbentuk politik. Ditengah larangan tersebut, para pemimpin lokal masyarakat Suku Dayak di Kalimantan (Kalimantan Tengah [*2]), mampu membentuk wadah persatuan berupa sebuah Organisasi. Para pemimpin organisasi adalah para pegawai Belanda, yang memiliki kesadaran untuk mengangkat derajat sukunya ke dalam tingkat yang lebih baik. Pada waktu itu ada larangan para pegawai pemerintah masuk ke dalam Organisasi Politik. Untuk menghindari kecurigaan Belanda, maka organisasi yang didirikan adalah organisasi non Politik. (Sejarah Kota Waringin Barat, 2001 , Halaman 37-38)

Minggu, 02 Maret 2014

Asal mula Adat , cerita dari Hulu Aik - Kalimantan Barat

Jaman dahulu kala , hiduplah dua saudara kandung yang berlainan jenis bernama Kranamuna ( Versi Lain : Bintan Putin) dan Kranamuning ((Bintan Cuka). Berasal dari melihat dua ekor kutu yang berdekapan di atas kepala Kranamuna , lalu Kranamuning mengajak Kranamuna untuk mengikuti perbuatan kutu tersebut. Hingga akhirnya menyebabkan Kranamuning hamil . (Pada saat itu belum ada hukum adat yang mengatur baik buruknya perilaku seseorang)
Meskipun Kranamuning mengandung selama tujuh tahun,tujuh bulan dan tujuh hari, namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan melahirkan, yang ia rasakan adalah keinginan (mengidam) memakan Hati Kera Putih. Untuk memenuhi keinginan Kranamuning , maka berangkatlah Kranamuna pergi berburu untuk mencari Kera Putih, dengan membawa sebilah mandau dan Sumpit. Ketika sampai di hutan , Kranamuna melihat seekor Kera Putih, dan iapun segera mengarahkan sumpitnya.  Namun tiba-tiba Kera Putih itu berkata "Dengan ini saya umumkan kepada seluruh binatang untuk berkumpul di tempat ini dua hari lagi. Pada hari itu akan ada wejangan penting yang akan saya berikan, dan pada hari itu pula saya akan mati". Seusai berkata demikian tiba-tiba sang Kera Putih itu menghilang.

Jumat, 28 Februari 2014

Dayak Sikukng (Sungkung-Bengkayang, Kalimantan Barat), Pahlawan yang terlupakan Republik Ini. (Cerita Jaman PGRS-PARAKU)



Dayak Sikukng adalah masyarakat Dayak yang mendiami tujuh kampung di sekitar Gunung Sunjang yakni Batu Ampar, Kadok, Medeng, Senoleng , Senebeh, Akit dan Lu. Oleh Pemerintah tujuh kampung ini dijadikan satu desa yang masuk dalam Kecamatan Jagoi Babang , Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.
Dayak Sikukng yang biasa orang luar menyebutnya Dayak Sungkung, diberikan pada jaman penumpasan PGRS-PARAKU tahun 1965-1970an (menurut sumber lokal tentara-tentara yang memberi nama Sungkung). Padahal Masyarakat Dayak Sikukng tidak mau disebut Sungkung. Karena menurut mereka Sikukng adalah sebuah nama yang mempunyai arti sakral peninggalan nenek moyang mereka , yang berarti terakhir atau terjauh.
Oleh orang luar Dayak Sikukng terkenal pengayau, pemenggal kepala orang yang sadis. Membuat penduduk kampung sekitar Dayak Sikukng , takut dengan orang Sikukng. Padahal menurut tetua adat Sikukng , Magang , "Kami bukan pengayau seperti yang diceritakan orang-orang. Kami hanya mengayau untuk kebutuhan upacara Adat "Nyobekng". "Itu pun hanya berlangsung lima tahun sekali", lanjutnya.

Sejarah Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894


Untuk mempersatukan wilayah Borneo, maka pada tahun 1894, atas prakarsa Damang Batu, dari desa Tumbang Anoi di Kalimantan Tengah mengumpulkan semua orang yang memiliki gelar tamanggung, damang, dambung, dohong..se-Borneo, dalam perjanjian Tumbang Anoi.Perjanjian Tumbang Anoi sendiri dimulai dengan pertemuan pendahulu yang disebut dengan Pertemuan Kuala Kapuas, pada tanggal 14 Juni 1893. Dalam pertemuan tersebut membahas beberapa hal sebagai persiapan untuk melakukan pertemuan yang lebih besar, diantaranya adalah :
1.      Memilih siapa yang berani dan sanggup menjadi ketua dan sekaligus sebagai tuan rumah untuk menghentikan 3 H (Hakayau=Saling mengayau, Hopunu=saling membunuh, dan Hatetek=Saling memotong kepala musuhnya).
2.      Merencanakan di mana tempat perdamaian itu.
3.      Kapan pelaksanaan perdamaian itu.
4.      Berapa lama sidang damai itu bisa dilaksanakan.